Mengapa Harus Berqurban ...?

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim

(Dekan Fakultas Syarian UIN Sultanah Nahrasiyah)

 

Kegirangan berhari raya di hari Aidul Adha tak boleh melupakan kita pada peristiwa besar dan bersejarah yang melatar belakangi, yaitu pengorbanan seorang ayah dan anak dalam menyahuti perintah Allah Swt. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam al-Quran dengan firman-Nya, “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”, (as-Shaffat: 100 – 107).

Aidul Adha adalah hari di mana umat Islam disyari’atkan melakukan penyembelihan hewan qurban, berupa kambing, sapi atau sejenisnya. Penyembelihan hewan ini bukanlah semata-mata ritus atau rutinitas simbolik tanpa makna. Ada sejumlah hikmah dan maksud atau tujuan dari ibadah ini, antaranya;

  1. Membentuk Kepatuhan

Islam memerintahkan umatnya untuk melaksanakan ibadah kepada Allah SWT dalam bentuk ritus-ritus tertentu, seperti shalat, zakat, puasa, dan lain-lain, termasuk qurban. Sejumlah ritus ini tujuan utamanya adalah membentuk kepatuhan dalam diri seorang hamba kepada Allah SWT. Terkait dengan ibadah qurban misalnya Allah berfirman, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya”, (Al-Hajj: 37). Ayat ini memberi satu isyarat bahwa ketaqwaan (kepatuhan) seseorang kepada Allah SWT dapat diraih melalui pelaksanaan ibadah qurban. Ibadah pada hakikatnya, termasuk qurban, adalah manifestasi penghambaan seseorang kepada Allah SWT. Bukti seseorang bertuhan adalah patuh dan loyal pada perintah-Nya, meski terkadang tidak diketahui maksud atau tujuan dari perintah tersebut. Itulah mengapa ritus-ritus tersebut dinamakan ibadah (penghambaan).

  1. Melahirkan Rasa Syukur

Di samping sebagai bukti kepatuhan kepada Allah, ibadah juga merupakan bentuk syukur atas nikmat yang diterima oleh seseorang, baik itu nikmat hidup, maupun nikmat agama. Dalam kaitannya dengan ibadah qurban Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah”, (Al-Kautsar: 1 – 2). Dalam firman-Nya lainnya Allah menegaskan, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, (An-Nahl: 18). Mensyukuri tidak memadai hanya dengan mengucapkan “terimakasih” atau “al-hamdulillah”, tetapi perlu tindakah lebih, melebihi dari sekedar ucapan. Lebih dari itu, syukur akan mengekalkan nikmat bahkan membuatnya bertambah. Allah berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih", (Ibrahim: 7).

  1. Mewujudkan Kepedulian Sosial

Perlu disadari bahwa seseorang tidak mampu melaksanakan ibadah dan menjalankan perintah agama ini jika ia hanya sendiri. Manusia adalah makhluk sosial yang hidupnya bergantung pada kehidupan alam sekitarnya, baik itu manusia maupun makhluk Allah lainnya. Itulah alasannya mengapa Islam sangat menekankan “jamaah”. Bersosial tidak hanya berdampak pada urusan duniawi, tetapi juga ukhrawi. Manusia butuh manusia lainnya, bahkan dukungan alam sekitarnya untuk menjalani hidupnya, baik yang bersifat material maupun spritual. Itulah alasannya mengapa, saat kita punya kelebihan harta misalnya, kita diperintahkan untuk berbagi antara sesama, terutama untuk mereka yang lemah dan membutuhkan. Karena hakikatnya, kelebihan yang kita miliki ada saham dan kontribusi pihak lainnya, baik langsung maupun tidak. Dalam sebuah hadis disebutkan, “tidaklah kalian dimenangkan Allah dan diberikan rezeki melaikan karena (doa) orang-orang lemah dari kalian”, (HR: Ahmad).  Dalam hadis lain nabi bersabda, “umat ini tertolong dengan orang-orang lemah dari mereka, dengan shalat, doa, dan keikhlasan mereka”, (HR: Nasai). Itulah mengapa dalam berqurban Allah berfirman, “maka makanlah sebahagiannya (dari daging qurban) dan beri makanlah orang miskin (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”, (Al-Haj: 36). Sebelumnya Allah berfirman, “maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir”, (Al-Haj: 28).

Qurban dan Komitmen dalam Beragama

Di antara sekian banyak hikmah dan rahasia dari syariat qurban adalah mengajarkan umat ini untuk komit dalam beragama. Dalam bahasa lainnya, istiqamah. Sikap ini sangat penting dan prinsipil sebagai bagian dari jati diri seorang mukmin. Allah berfirman, Maka tetaplah (istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu “, (Hud: 112). Sikap ini adalah lawan dari kemunafikan yang tidak berprinsip, yang beragama hanya saat enak perutnya saja, sebagaimana firman Allah, “dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang”, (Al-Haj: 11).

Dalam hal ini kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih anaknya patut dijadikan teladan. Tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kita hari ini yang hanya mengeluarkan sedikit uang untuk membeli dan menyembelih seekor kambing. Dalam bahasa lainnya, jika menyembelih seekor kambing saja masih ogah-ogahan, lalu bagaimana seseorang bisa menunjukkan sikap komit dan loyalitasnya pada agama ini. Sungguh berislam itu tidak hanya soal shalat dan puasa, tetapi bagaimana seseorang bisa memberi lebih dari itu, yaitu harta. Bukan hanya saat kita lapang, tapi juga saat sempit. Itulah salah satu bentuk komitmen beragama, ciri dari orang-orang beriman dan bertaqwa. Allah berfirman, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit”, (Ali-‘Imran: 134).

Sesungguhnya tidak ada istilah hidup sempit, yang ada hanyalah hati-hati yang sempit. Hal ini mirip dengan firman Allah, “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”, (Al-Haj: 46). Berapa banyak orang yang hidupnya lapang dan bergelimang harta, tatapi berat “hatinya” untuk berqurban. Sebaliknya, di sana ada sejumlah orang dengan harta seadanya, bahkan minim, tiap tahun tak pernah absen berqurban. Abdullah ibn ‘Abbas pernah menyembelih ayam di hari Aidul Adha karena tidak mampu menyembelih kambing. Bukan berarti ayam bisa menggantikan hewan qurban, tidak. Tetapi Ibnu ‘Abbas ingin mengajarkan umat ini komit dan tidak plin plan dalam beragama. Tetapi beragamalah dengan tulus dan sungguh-sungguh. Jadilah seperti Ibrahim dan anaknya Ismail yang Ikhlas dan teguh meskipun harus mengorbankan segala-galanya. Wallahu’alam.

Share this Post