Perkuat Jejaring Akademik, Dosen Fakultas Syariah Ceramah di Universiti Malaysia Sabah

Lhokseumawe - Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Dr. Ja’far, M.A., menjadi narasumber pada program ceramah bertajuk “Adab Ilmu dan Penuntut Ilmu dalam Perspektif Sejarah dan Karya Ulama” yang diselenggarakan Fakulti Pengajian Islam Universiti Malaysia Sabah (UMS), Senin (5/1/2026).

Kegiatan yang berlangsung secara dalam jaringan melalui Microsoft Teams tersebut merupakan kolaborasi akademik antara Fakulti Pengajian Islam UMS dengan UIN Sultanah Nahrasiyah, dan diikuti mahasiswa kursus al-Nahu al-Wazifi al-Awwal AT10702 beserta dosen.

Dalam pemaparannya, Dr. Ja’far menegaskan bahwa adab merupakan isu sentral dalam agama Islam. Ia mengutip penjelasan para ulama, termasuk Prof. M. Quraish Shihab, mengenai makna akhlak yang ditegaskan Al-Qur’an dalam Surah al-Qalam ayat 4, serta hadis “Innamā bu‘itstu li-utammima makārim al-akhlaq”. Menurutnya, adab adalah upaya meneladani akhlak ilahiah dan kenabian.

Pada bagian lain, ia menyoroti tentang pentingnya meniru sifat-sifat Allah seperti kreatif, pemaaf, penyabar, dan penyayang. Rasulullah, katanya, menjadi teladan integritas melalui empat sifat utama: shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

Dr. Ja’far juga menekankan bahwa adab menjadi syarat kebangkitan umat. Merujuk pemikiran Prof. Azyumardi Azra, ia menyebut perlunya penguatan keadaban publik, sementara Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas mengingatkan bahaya “kehilangan adab” yang dapat melahirkan pemimpin tanpa moral, intelektual, dan spiritual memadai.

Ceramah kemudian mengulas secara sistematis literatur klasik mengenai etika akademik (adab al-‘alim wa al-muta‘allim). Dr. Ja’far memaparkan karya-karya penting dari Ibn Sahnun, al-Qabisi, al-Baghdadi, al-Ghazali, al-Nawawi, Ibn Jama‘ah hingga ulama Nusantara seperti KH. Hasyim Asy’ari dan Syekh Hasan Ma’sum. Ia menunjukkan bahwa perhatian ulama terhadap adab terbentang dari masa kejayaan hingga kemunduran peradaban Islam.

Menurutnya, struktur kitab-kitab adab umumnya memuat lima tema: keutamaan ilmu, etika guru, etika murid, adab terhadap buku, serta adab dalam lingkungan pendidikan. Inti ajarannya meliputi integritas personal, etika proses belajar-mengajar, dan etika pergaulan.

Mengutip Ibn Jama‘ah, Dr. Ja’far menjelaskan kode etik ilmuwan yang mencakup kedekatan dengan Allah, kesederhanaan, tidak mencari dunia dengan ilmu, terus belajar, menulis, dan berakhlak mulia. Sementara dalam mengajar, guru dituntut menjaga kebersihan hati, adil, jelas menyampaikan materi, menghindari perdebatan berlebihan, serta menutup majelis dengan wallāhu a‘lam.

Adapun bagi penuntut ilmu, ia menekankan adab personal seperti meluruskan niat, mengatur waktu, sederhana dalam hidup, menjaga kehalalan, meminimalkan kelalaian, dan memilih teman yang baik. Dalam belajar, murid dianjurkan memulai dari Al-Qur’an, tekun hadir di majelis, sopan kepada guru, tidak malu bertanya, dan menghindari pertentangan yang tidak perlu.

Dr. Ja’far juga menyoroti adab terhadap guru, termasuk kesabaran, rasa hormat, izin saat menemui, tidak mendahului, serta menjaga sikap lahir batin. Ia menambahkan adab terhadap buku dan madrasah sebagai bagian penting dari tradisi keilmuan.

Di akhir sesi, ia mengulas ajaran Syekh Hasan Ma’sum tentang empat pilar adab murid: kepada guru, kepada sesama, kepada diri, dan kepada Allah—yang menuntun murid menggabungkan disiplin spiritual, moral, dan intelektual.

Peserta menyambut positif materi tersebut. Pihak Fakulti Pengajian Islam UMS menilai kegiatan ini memperkaya pemahaman mahasiswa tentang integritas akademik sekaligus memperkuat jejaring ilmiah Indonesia–Malaysia. Kolaborasi kedua institusi diharapkan berlanjut dalam bentuk pertukaran narasumber, penelitian bersama, dan program penguatan budaya ilmu di lingkungan kampus.[]

Share this Post