Direktur SIFHAMS University of Sharjah Menjadi Keynote Speaker NAHRALIS 2026

Lhokseumawe - Nahrasiyah International Conference on Islamic and Legal Studies (NAHRALIS) 2026 menghadirkan Prof. Mesut Idriz sebagai salah satu pembicara utama yang mengangkat tema Islamic Education, Tolerance and Global Peace. Dalam forum akademik tersebut, Prof. Idriz menegaskan bahwa pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang damai melalui penguatan nilai-nilai etika, toleransi, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Menurutnya, tantangan global yang semakin kompleks menuntut sistem pendidikan Islam mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

Prof. Mesut Idriz merupakan akademisi asal North Macedonia yang dikenal luas sebagai pakar sejarah peradaban Islam, warisan intelektual Islam, serta studi Ottoman dan Balkan. Saat ini ia menjabat sebagai Profesor pada Department of History and Islamic Civilization, College of Arts, Humanities and Social Sciences, University of Sharjah, Uni Emirat Arab. Selain itu, ia dipercaya sebagai Direktur Sharjah International Foundation for the History of Arab and Muslim Sciences (SIFHAMS), lembaga yang berfokus pada pengembangan kajian sejarah ilmu pengetahuan Arab dan Islam.

Perjalanan akademiknya ditempa di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), International Islamic University Malaysia (IIUM), tempat ia meraih pendidikan pascasarjana hingga doktoral. Sepanjang kariernya, Prof. Idriz telah menghasilkan berbagai buku dan artikel ilmiah mengenai historiografi Islam, sistem hukum Ottoman, tradisi pendidikan Islam, sejarah peradaban, serta dinamika keberagamaan masyarakat Muslim kontemporer. Karya-karyanya banyak menjadi rujukan dalam studi pendidikan Islam, sejarah hukum Islam, dan hubungan antarperadaban.

Dalam pemaparannya, Prof. Idriz menjelaskan bahwa pendidikan Islam pada hakikatnya bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan pembentukan manusia secara utuh melalui tiga dimensi utama, yaitu pengembangan intelektual (tarbiyah), pembelajaran ilmu (ta'lim), dan pembentukan adab (ta'dib). Pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai tersebut akan melahirkan individu yang berilmu, berakhlak, serta mampu mewujudkan keadilan sosial. Ia mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tanpa landasan etika justru dapat menjadi ancaman, terutama di tengah perkembangan kecerdasan buatan, bioteknologi, dan media digital.

Prof. Idriz juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi pendidikan Islam saat ini, mulai dari terpisahnya pendidikan agama dan umum, dominasi hafalan tanpa pemahaman yang mendalam, hingga munculnya ekstremisme akibat pemahaman agama yang dangkal. Ia menilai bahwa radikalisme bukan lahir karena ajaran Islam yang berlebihan, melainkan karena minimnya pemahaman yang benar, pembacaan teks secara parsial, serta kurangnya bimbingan ulama yang kompeten. Di era digital, ia menekankan pentingnya membimbing generasi muda agar memperoleh pengetahuan agama dari sumber yang kredibel, bukan semata-mata dari media sosial atau para influencer.

Mengakhiri presentasinya, Prof. Idriz menegaskan bahwa toleransi dalam Islam tidak hanya berarti menerima keberadaan pihak lain, tetapi juga menghormati martabat manusia, menegakkan keadilan, hidup berdampingan secara damai, serta menjunjung kebebasan berkeyakinan. Ia menunjukkan bahwa prinsip-prinsip tersebut telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW melalui Piagam Madinah, Perjanjian Hudaibiyah, hingga pemberian amnesti saat Fathu Makkah. Karena itu, menurutnya, pendidikan Islam yang autentik akan secara alami melahirkan masyarakat yang toleran dan menjadi fondasi penting bagi terwujudnya perdamaian global yang berkelanjutan.[]

Share this Post