Antropolog Amerika Jadi Pembicara Utama NAHRALIS 2026

Lhokseumawe – Antropolog Amerika Serikat, Prof. Ronald A. Lukens-Bull dari University of North Florida akan menjadi salah satu pembicara utama pada Nahrasiyah International Conference on Islamic and Legal Studies (NAHRALIS) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Syariah UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe pada 29–30 Juli 2026. Konferensi internasional bertema “Islam, Law and Global Futures: Advancing Peace, AI Ethics, and Sustainable Development” ini menghadirkan akademisi dari Amerika Serikat, Austria, Pakistan, Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Indonesia.

Professor Ronald A. Lukens-Bull, Ph.D. adalah Guru Besar Antropologi dan Studi Agama di University of North Florida, Amerika Serikat. Selama lebih dari tiga dekade, beliau dikenal sebagai salah satu antropolog terkemuka yang meneliti Islam Indonesia, khususnya mengenai pesantren, pendidikan Islam, otoritas keagamaan, gerakan Islam, pluralisme, dan hubungan agama dengan perubahan sosial. Beliau juga pernah menjadi Fulbright Senior Researcher di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Fulbright Senior Scholar di IAIN Sumatera Utara, serta menjabat sebagai Editor-in-Chief jurnal Contemporary Islam: Dynamics of Muslim Life. Karya-karyanya, seperti A Peaceful Jihad: Negotiating Identity and Modernity in Muslim Java dan Islamic Higher Education in Indonesia: Continuity and Conflict, telah menjadi rujukan penting dalam kajian Islam dan antropologi di Indonesia maupun dunia. Pada kesempatan ini, kita berkesempatan mendengarkan pemaparan beliau mengenai perspektif antropologi terhadap Islam dan dinamika masyarakat Indonesia.

Dalam konferensi tersebut, Prof. Ronald akan mempresentasikan makalah berjudul “The Discursive Blueprint of Violence.” Berangkat dari perspektif antropologi, presentasi ini mengajak peserta melihat bahwa kekerasan tidak lahir secara spontan sebagai tindakan fisik semata, tetapi didahului oleh proses pembentukan makna melalui bahasa, narasi, simbol, dan berbagai praktik sosial yang berkembang di masyarakat. Dengan kata lain, sebelum kekerasan terjadi di ruang publik, terdapat konstruksi wacana yang membentuk cara individu maupun kelompok memahami lawan, identitas, ancaman, dan legitimasi tindakan.

Melalui pendekatan tersebut, Prof. Ronald menelaah bagaimana berbagai bentuk diskursus—baik yang berkembang dalam ruang politik, media, maupun kehidupan sosial—dapat memengaruhi cara masyarakat memandang konflik. Ia menunjukkan bahwa narasi tertentu mampu membangun polarisasi, memperkuat stereotip, bahkan menciptakan pembenaran terhadap tindakan kekerasan. Sebaliknya, perubahan cara berbicara dan membangun narasi juga dapat menjadi fondasi bagi rekonsiliasi, perdamaian, dan penguatan kohesi sosial.

Kajian tersebut menjadi relevan dengan tema besar NAHRALIS 2026 yang menempatkan perdamaian sebagai salah satu agenda utama dalam menghadapi tantangan global. Di tengah meningkatnya penyebaran informasi melalui media digital dan kecerdasan buatan, pembentukan opini publik berlangsung semakin cepat sehingga analisis terhadap konstruksi wacana menjadi semakin penting. Perspektif antropologi yang ditawarkan Prof. Ronald diharapkan memberikan pemahaman kritis mengenai bagaimana masyarakat dapat membangun budaya damai melalui pendidikan, dialog, dan penguatan literasi sosial.

Selain Prof. Ronald, NAHRALIS 2026 juga menghadirkan Riaz Ahmad Saeed, Ph.D. (Pakistan), Prof. Rüdiger Lohlker (Austria), Prof. Mesut Idriz (Uni Emirat Arab), Prof. Madya Umar Muhammad Noor (Malaysia), dan Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Ph.D. (Indonesia). Konferensi ini diharapkan menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi akademik internasional sekaligus menghasilkan gagasan-gagasan baru mengenai peran Islam dan hukum dalam mewujudkan perdamaian, etika kecerdasan buatan, dan pembangunan berkelanjutan.[]

Share this Post